Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Rohana Uli Siregar, S.Sos. – Bagaimana Mendongeng Dapat Membentuk Pemimpin yang Berintegritas

Oleh: Rohana Uli Siregar, S.Sos

Pernahkah ketika kecil Anda mendengarkan dongeng sebelum tidur?  Dongeng yang diceritakan secara lisan atau dibacakan melalui buku oleh orangtua Anda, ayah atau ibu Anda mungkin. Masihkan Anda ingat salah satu cerita atau beberapa cerita yang sangat berkesan saat itu? Apa tema cerita yang didongengkan oleh orangtua Anda? Tema yang beraneka ragam atau tema nilai – nilai integritas seperti tentang kejujuran, keadilan, kemandirian, tanggung jawab, keberanian, kesederhanaan, kepedulian, kedisiplinan dan kerja keras.

 Mendongeng merupakan aktivitas yang telah menjadi tradisi bangsa Indonesia berabad – abad lalu. Dikutip dari R. Rukiyah dalam  artikel yang berjudul Dongeng, Mendongeng dan Manfaatnya yang diakses melalui di ejurnal UNDIP, Mendongeng merupakan salah satu bentuk tradisi lisan sebagai sarana komunikasi dan merekam peristiwa-peristiwa kehidupan, sudah ada berabad-abad yang lalu. Tradisi lisan ini terus berkembang, dan pernah menjadi primadona bagi ibu atau nenek dalam mengantar tidur anak atau cucu mereka.

Mendongeng memiliki beberapa tujuan, masih dikutip dari artikel Dongeng, Mendongeng dan Manfaatnya, salah satu manfaat dongeng menurut Priyono, dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru dengan yang buruk dan tidak perlu dicontoh Dongeng yang memiliki tema nilai – nilai integritas akan mampu menjadi inspirasi bagi anak untuk mencontoh sifat dan prilaku baik tokoh  atau karakter yang diceritakan dalam dongeng tersebut. Atau tidak ingin mencontohnya karena tau itu hal yang tidak terpuji.

Nilai integritas yang ingin ditanamkan melalui dongeng yang kita dengarkan di masa kanak- kanak akan membekas dalam benak dan menjadi fondasi untuk membentuk dan menguatkan karakter baik anak – anak. Nilai integritas ini adalah fundamental untuk membentuk pemimpin berintegritas. Pemimpin yang nantinya akan mampu menjalankan kepemimpinannya dengan mengedepankan nilai integritas.

Bagaimana proses terjadinya internalisasi nilai integritas hingga menjadi karakter pada diri anak? Berikut penjelasan terhadap proses tersebut:

  1. Internalisasi nilai integritas terjadi melalui proses yang berulang seperti pembiasaan, seperti membiasakan mendengar cerita dongeng sebelum tidur. Sebelum tidur di malam hari adalah saat otak menjadi releks. Saat ini informasi yang ditanamkan secara berulang akan masuk kedalam alam bawah sadar dengan lebih mudah. 
  2. Kemanpuan bercerita yang baik dan cerita yang kuat dan sederhana. Cerita dongeng yang diceritakan dengan kemampuan bercerita yang baik akan mengendap dalam diri anak karena diperkuat oleh emosi anak saat mendengar cerita tersebut. Misalnya cara bercerita dengan intonasi suara yang berubah – ubah sesuai dengan karakter, menambahkan suara efek pada adegan tertentu, teknik bercerita yang bervariasi, seperti dicampur dengan bernyanyi.

Cerita dongeng yang dipilih harus sesuai dengan usia anak. Makin belia usia anak. Makin belia usia anak makin sederhana jalan cerita dan makin sedikit karakternya, gunakan kosa – kata yang sesederhana mungkin dan kalimat – kalimat yang kaya dengan deskripsi untuk memancing imajinasi visual anak. Cerita dongeng integrasi adalah seperti contoh berikut:

Contohnya adalah dongeng yang menceritakan salah satu nilai integritas yang berjudul Penggembala domba dan Srigala. Berikut cerita singkatnya, disuatu desa ada seorang penggembala domba yang setiap hari menggembalakan beberapa ekor domba di dekat gunung. Karena sedang merasa bosan, pengembala ini akhirnya mencari cara untuk menghibur dirinya. Apa yang dilakukannya? Dia berteriak- teriak membuat kegaduhan dengan mengatakan “ tolong…tolong…ada srigala” .

Teriakan keras itu menimbulkan kehebohan, warga desa bergegas meninggalkan pekerjaan mereka untuk menolong penggembala tersebut.  Namun, ketika tiba lokasi tidak ditemukan srigala, hanya penggembala yang duduk dengan santai dan domba- domba yang sedang asyik merumput. Warga desa bertanya, “dimana srigalanya”? dengan santai penggembala itu menjawab tidak ada srigala dan ia hanya bercanda saja. Dengan kesal penduduk desa pulang.

Kejadian tersebut berulang hingga beberapa hari, penggembala yang bosan berteriak – teriak tentang srigala, penduduk desa datang untuk membantu. Ketika tiba di lokasi mereka hanya menemukan penggembala dan domba- dombanya yang tertawa – tawa karena berkali – kali berhasil membohongi penduduk desa.

Hingga pada hari itu srigala benar- benar muncul dan mengincar anak – anak domba si penggembala. Penggembala berteriak minta tolong pada penduduk agar datang membentunya menyelamatkan domba- dombanya. Penduduk desa yang telah berkali- kali dibohongi merasa enggan untuk menuju lokasi, karena yakin kali ini mereka pasti dibohongi lagi. Akhirnya, domba- domba itu tidak terselamatkan dan penggembala menyesal.

Emosi anak saat mendengar cerita ini adalah marah dan kesal akan kelakuan si penggembala. Anak juga merasa takut karena mendapat informasi tentang dampak dari berbohong. Akhirnya Anak merasa bahwa berbohong itu tidak baik karena membawa dampak yang tidak baik bagi si pembohong seperti yang dialami oleh penggembala dalam cerita tersebut

3.Diskusi, Refleksi dan Validasi. Menanyakan pada anak apa yang dirasakannya setelah mendengar cerita si penggembala dan srigala atau meminta anak menceritakan pendapatnya tentang apa yang dilakukan si penggembala itu benar atau salah baik atau buruk, boleh atau tidak boleh.

Setelah itu minta anak merefleksikan manfaat apa yang dia dapatkan dari cerita itu, apa akibatnya jika perilaku si penggembala ditiru, dan bagaimana sebaiknya anak berprilaku agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Jawaban anak divalidasi dengan mengatakan apa yang dikatakannya benar. Perasaannya terhadap cerita itu tepat, seperti mengatakan manusia yang tidak jujur merugikan orang lain dan diri sendiri. Atau kita pasti akan kesal dan marah kalau dibohongi.

Setelah menyimak penjelasan di atas, semoga kita sudah memahami pentingnya mendongeng sebagai media internalisasi nilai integritas dan  salah satu keterampilan parenting yang harus dikuasai orangtua. Agar mendongeng  mampu menjadi cara internalisasi nilai integritas yang efektif maka harus silakukan  dengan terus menerus, di waktu yang tepat, sesuai dengan tumbuh kembang anak, dengan teknik yang baik dan variatif  dan cerita yang kuat dan menginspirasi.

Selamat mendongeng untuk para orangtua, selamat menanam benih integritas.

Artikel Terkait