Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Imam Safi’i, S.Pd. – Medsos, Siswa, dan Cahaya Agama: Membangun Karakter Kuat di Era Digital

“Sebagai pelaut modern, kita berlayar di lautan informasi yang tak berujung. Namun, perlu
kita ingat bahwa, di tengah perjalanan ini, kompas moral kita perlu tetap berfungsi.”

Ketika layar digital melambungkan kita ke lautan dunia maya yang tak terbatas, generasi
muda kita adalah pelayar muda yang berani. Tetapi dalam gemuruh informasi dan hingar-
bingar media sosial (medsos), adakah mereka tetap mengikuti nilai-nilai budi pekerti yang
telah ditanamkan oleh agama? Pertanyaan ini menggugah peran penting pendidikan agama
di kalangan siswa di era medsos ini.

Menyemai Akar Kebaikan: Di tengah gempuran informasi yang tak henti-hentinya,
pendidikan agama seperti benih yang ditanamkan dalam tanah. Ia mengajarkan siswa
tentang moralitas, etika, dan nilai-nilai luhur. Dalam dunia yang begitu dinamis, agama
memberikan pijakan yang kuat untuk memilih jalan yang benar.

Pemahaman yang Dalam: Medsos membawa kita ke berbagai sudut dunia tanpa harus
meninggalkan tempat duduk. Namun, dalam perjalanan ini, adakah ruang untuk merenung
dan memahami? Pendidikan agama melatih siswa untuk merenungi makna yang lebih
dalam, memberi wawasan tentang kehidupan, tujuan, dan tanggung jawab mereka.

Empati dalam Interaksi: Menghubungkan melalui jarak jauh telah menjadi lebih mudah,
tetapi apakah kita benar-benar menghubungkan hati? Pendidikan agama mengajarkan siswa
untuk mengembangkan empati, untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain.
Dalam era medsos yang kadang-kadang membawa kecemasan dan perpecahan,
kemampuan ini sangat berharga.

Menjadi Agen Perubahan Positif: Dalam lautan medsos yang kadang kala menghasilkan
gelombang negativitas, pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membentuk siswa
sebagai agen perubahan positif. Melalui ajaran-ajarannya, siswa diajak untuk menjunjung
tinggi nilai-nilai seperti toleransi, saling menghormati, dan berbuat baik kepada sesama,
yang bisa memberikan dampak positif tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi
komunitas digital yang lebih luas.

Kesadaran Akan Akibat: Tanpa panduan moral yang kuat, risiko terjerumus dalam
perangkap konten negatif atau bahkan kontroversial di medsos menjadi lebih besar.
Pendidikan agama membekali siswa dengan kesadaran akan akibat dari tindakan dan kata-
kata mereka, mengajarkan tanggung jawab atas segala yang mereka sampaikan di dunia
maya.

Peran Orang Tua: Dalam mewujudkan penerapan nilai-nilai agama di dunia digital, peran
orang tua sangatlah penting. Mereka perlu membimbing anak-anak mereka dalam
menggunakan medsos secara bijak dan bertanggung jawab. Dengan berdialog terbuka
tentang nilai-nilai agama, orang tua dapat membantu membangun kesadaran akan etika
dan moral di dunia maya.

Peran Guru: Para pendidik memiliki tugas besar dalam membentuk karakter siswa. Di era
medsos, guru memiliki peran ganda. Mereka tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga memberikan panduan dalam menghadapi informasi di dunia digital. Guru dapat
menggunakan pendidikan agama sebagai alat untuk mengajarkan pemahaman, kritis, dan
pemanfaatan yang baik terhadap teknologi.

Dalam rangka membentuk siswa yang tangguh dan berakhlak, sinergi antara orang tua,
guru, dan pendidikan agama adalah kunci. Medsos mungkin adalah lautan yang melimpah
informasi, tetapi pendidikan agama adalah kompas yang memberikan arah dalam pelayaran
siswa di era digital ini. Dengan dukungan yang kokoh, siswa-siswa ini bisa mengarungi dunia
maya dengan cerdas, bijaksana, dan bermartabat.

Artikel Terkait